Selasa, 10 Mei 2011

GADO – GADO FILSAFAT PART II


Gado-gado bagi masyarakat Indonesia pada umumnya merupakan salah satu makanan yang populer. Gado – gado sebagai makanan khas Indonesia sudah diakui kelezatannya, dari kalangan anak sampai dewasa, dari golongan atas sampai golongan kantong pas – pasan semua menyukainya. Ini berarti kedudukan gado – gado dalam hati para penggemarnya suli untuk tergantikan. Ngomong – ngomong tentang kedudukan, kedudukan filsafat bagi ilmu – ilmu yang lain juga berpengaruh. Hubungan antara ketiga pilar filsafat, yakni ontologi, epistimologi, dan aksiologi juga berpengaruh satu dengan yang lainnya. Ada Sembilan(9) hubungan antara ketiganya. Yakni diuraikan sebagai berikut, [1]Ontologi – ontologi, Ontologi yang lebih kita kenal dengan hakikat ternyata juga mempunyai hubungan dari ontologi atau hakekat yang lain, atau bisa kita katakan hakekat dari hakekat. Sebenar – benarnya hakekat adalah sang pencipta. [2]Ontologi - epistimologi, begitu juga dengan sebaliknya juga memiliki hubungan yang erat. Hakekat dari epistimologi, dimana epistimologi sering disebut dengan metode adalah metode untuk menggapai hakekat, seperti apa yang dituliskan Dagamer dalam bukunya yang berjudul “ Kebenaran Metode”.[3]Epistimologi – ontologi, merupakan kebalikan dari hakekat dari epistimologi yakni metode dalam menggali hakekat. Dimana metode dalam menggali hakekat adalah filsafat. Selanjutnya adalah hubungan dari [4]ontologi dan aksiologi, atau hakekat dari baik buruk. Dan kita semua sudah mengetahui bahwa hakekat baik buruk setiap orang berbeda tiap orang. Sedangkan kebalikannya adalah [5]aksiologi-antologi atau baik buruknya hakekat. Contohnya adalah misalkan kita berbicara tentang Allah, sebaiknya di masjid atau pada tempat yang suci, [6] epistimologi – epistimologi adalah metode dalam menggali metode. Hubungan berikutnya adalah [7] epistimologi – aksiologi, yakni metode yang beraksiologi. Tujuannya adalah mengungkap baik dan buruk. Misalnya dalam kasus terbunuhnya Osama bin Laden, bagi Amerika Osama bin Laden adalah tokoh teroris yang jahat, kejam dll, tetapi bagi para pengikut Osama, Osama bin Laden adalah tokoh yang baik, dll.[8] Aksiologi – epistimologi , yakni etikanya adalah cara. Dan yang terakhir adalah [9] Aksiologi – aksiologi, yakni tatacara atau baik buruknya tentang baik buruk. Contohnya adalah ritual resepsi pernikahan. Dimana maksud dari resepsi pernikahan adalah menyampaikan kebaikan dengan cara yang baik. Demikianlah hubungan ketiga pilar dalam filsafat tersebut.

Ternyata membuat gado – gado dengan bumbu kacang yang lezat tidaklah sulit, ya segampang belajar filsafat. Dimana berpikir filsafat bebas menembus dimensi ruang dan waktu. Seperti apa yang diungkapkan Bapak Marsigit, belajar filsafat menjadikan kita berpikir kritis, mempunyai pemikiran yang menyebabkan selalu ingin bertanya. Tentu membutuhkan banyak referensi untuk belajar filsafat. Sekarang pertanyaannya adalah apa tidak bingung belajar dengan banyak referensi. Perlu diketahui bahwa referensi satu dengan yang lain saling berhubungan sehingga tidak akan membingungkan.

Kalau pada gado – gado, bumbu kacang memiliki peran tinggi karena kemantapan sepiring gado- gado terletak pada bumbu kacangnya. Jika dalam filsafat, bahasa mengambil andil besar dalam berfilsafat. Baru aku menyadari bahwa selama ini aku berfilsafat dengan bahasa, sehingga filsafatku adalah bahasaku. Dan baru aku menyadari bahwa bahasaku tidak bisa menjelaskan semuanya. Bahasa analog adalah bahasa yang penting dalam berfilsafat. Bahasa analog masih dipandang tinggi oleh masyarakat, sehingga sekarang digunakan commonsense atau bahasa sehari – hari dalam filsafat. Berbicara tentang bahasa, tentu sebagai hamba Allah, kita ingin mengungkapkan kebesaran Allah dengan menggunakan bahasa yang indah. Dengan menyebut namaNya lah, sudah merupakan bahasa paling indah.

Sering aku bayangkan kelezatan sepiring gado – gado saat cacing – cacing dalam perutku meraung – meraung meminta makan. Khayalanku terbang melayang menuju warung gado – gado favoritku, warung pojok. Padahal aku mengetahui berkhayal adalah berlogika tetapi tidak ada pengalaman dan hanya menyangkup separuh dunia saja. Sungguh aku tidak sadar. Karena aku tidak sadar berarti aku tidak berpikir. Dimanakah batas pikiran kita? Jawabnya tentu di dalam hatiku. Orang yang tidak membatasi batas pikirannya berarti dia tidak mempercayai adanya Tuhan. Kadang pikiran kita tak lepas dari jebakan para mitos. Apa itu mitos? Mitos dapat diartikan dalam arti primitif, arti luas, arti sempit, arti professional dsb. Contoh mitos dalam arti primitif adalah sering kita dengar nenek kita bicara “ awas pohon mangga itu ada yang nunggu”. Hingga kita yang mendengarnya tidak berani mendekati pohon mangga tersebut, padahal sebenarnya ada makna tersirat di dalamnya. Dan masih banyak lagi contoh mitos dalam kehidupan sehari- hari dalam pengertian yang lebih luas. Berpikir diawali dengan kesadaran, kemudian kesadaran diikuti tentang artinya sadar tentang hal apa. Misal sadar tentang hal makan gado – gado. Jika sadar keluar dinamakan berkhayal , sedangkan jika sadar ke dalam artinya berfilsafat. Bermimpi juga keluar dari kesadaran kita. Mungkin pernah terbesit dalam lamunan kita, apakah ada mimpi di dalam mimpi dan di dalam mimpi ada mimpi lagi. Teorinya dalam matematika hal ini disebut dengan “infinit regress”. Seperti yang pernah dijelaskan oleh Bapak Marsigit, infinit regress adalah kesadaran tentang kesadaran tentang kesadaran tentang kesadaran.....tentang kesadaran….ataupun ketika akan mendefinisikan “adalah”. Adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah……

Demikianlah kelezatan gado – gado filsafat yang berpengaruh terhadap ilmu – ilmu yang lain. Seperti kelezatan sepiring gado – gado yang bisa menghipnotis para penggemarnya.

Rabu, 04 Mei 2011

KELEZATAN GADO – GADO FILSAFAT

Siapa yang tak kenal dengan makanan asli ini? Gado-gado, makanan dari Betawi ini terdengar seperti “campur-campur”. Benar sekali memang, makanan ini memang campur-campur alias berbagai macam sayuran sehat ada didalamnya. Gado-gado terdiri dari macam-macam sayuran yang direbus dan dicampur jadi satu didalamnya. Sayurannya pun beragam, ada sayuran hijau yang diiris kecil-kecil seperti selada, kubis, bunga kol, kacang panjang, tauge, mentimun, tomat, kentang rebus yang diiris, telur rebus dan dilumuri bumbu kacang yang lezat.

Hampir sama dengan gado – gado, filsafat juga campur – campur dan beranekaragam penyusun di dalamnya. Jika pada gado – gado terdiri dari sayuran – sayuran, maka pada filsafat terdiri dari beranekaragam objek, dimana meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Kira – kira antara yang ada dan yang mungkin ada munculnya duluan mana ya? Apakah sesuatu yang ada? Atau apakah yang mungkin ada? Pertanyaan ini hampir senada dengan mana yang duluan telur atau ayam? Sesuatu yang membingungkan!! Coba perhatikan berikut ini! Bapak Marsigit akan menulis pada papan tulis yang masih bersih. Potensi apa yang ada pada papan tulis yang bersih itu? Mungkin gambar kelinci, gambar tupai atau bahkan tulisan singkat dari bapak Marsigit. Bagi Bapak Marsigit antara yang ada dan yang mungkin ada lebih duluan yang mungkin ada, karena beliau memikirkan dulu di pikiran, beliau hendak membuat apa. Jika Bapak Marsigit memberi potensi gambar kelinci pada papan tulis itu berarti gambar kelinci sudah berada dalam benak atau pikiran bapak Marsigit, berarti gambar kelinci adalah yang mungkin terjadi bagi Bapak Marsigit. Berarti antara yang ada dan yang mungkin ada lebih dahulu yang mungkin ada bagi Bapak Marsigit. Bagi kita yang melihat gambar kelinci tersebut, gambar kelinci merupakan sesuatu yang ada, hal ini disebabkan karena kita melihat sesuatu yang sudah ada terlebih dahulu. Berarti bagi kita yang melihat, antara yang ada dan mungkin ada lebih dahulu yang ada. Kesimpulannya antara yang ada dan yang mungkin ada lebih dahulu yang mana itu tergantung sudut pandang yang mengamati atau melihatnya. Begitulah ilustrasi sederhana untuk menjawab mana yang lebih dahulu antara yang ada atau yang mungkin ada. Begitulah berpikir filsafat, bebas menembus ruang dan waktu dan perlu diingat berfikir filsafat berdimensi – dimensi.

Masih tentang objek, objek merupakan syarat mutlak dari suatu ilmu. Karena objek inilah yang menentukan langkah-langkah lebih lanjut dalam pengupasan lapangan ilmu pengetahuan itu. Tanpa adanya objek tertentu maka dapat dipastikan tidak akan adanya pembahasan yang mapan. Objek dibagi menjadi dua yakni objek material yang bisa diartikan sebagai “isi” dan objek formal yang dapat diartikan sebagai “wadah”. Contohnya botol berisi air putih berarti air putih sebagai objek material dan botolnya adalah sebagai objek formal. Dan ternyata botol juga bisa menjadi isi dari tas, berarti botol sebagai objek formal dari air putih bisa menjadi objek material dari kantong plastik. Dan sebenarnya – benarnya objek formal bisa menjadi objek material begitupun sebaliknya.

Jika dalam gado – gado terdapat telur dan dilengkapi dengan nasi atau lontong maka dalam gado – gado filsafat dilengkapi dengan fenomena. Fenomena dalam filsafat ada dua, yakni kaum pengikut Permenides, dimana Permenides menyatakan fenomena itu selalu bergerak secara tetap. Dan yang kedua adalah kaum pengikut Heraclitos. Heraclitos menyatakan bahwa fenomena itu selalu berubah. Jika tesisnya adalah fenomena maka antitesisnya adalah noumena, menurut Immanuel Kant noumena adalah sesuatu yang tidak dapat dipikirkan seperti roh. Kalau kita iseng – iseng memikirkan sesuatu apakah kelak akan menjadi sebuah kenyataan? Berpikir sebaiknya berpikir yang terang. Terang di pikiran, terang di jiwa serta terang di badan. Untuk memahami terang dalam berpikir sebaiknya kita memahami terlebih dahulu tentang hakekat berpikir yakni ketika seseorang bisa mengambil keputusan. Selain terang dalam berpikir, terang dalam hati yakni ketika diri saya sendiri, kamu, dia, kalian serta mereka merasa tidak ada jarak dengan Yang Mahakuasa.

Kelezatan sepiring gado – gado biasanya terletak pada kelezatan bumbu kacangnya. Jelas untuk mendapatkan bumbu kacang yang lezat harus adil dalam memadu – madankan bermacam – macam bumbu dan kacang atau proporsi aneka ragam komposisi bumbu kacang harus sesuai takaran. Dalam filsafat hal ini disebut dengan commensurable. Berbeda dengan commensurable, icomensurable adalah mengukur dengan ukuran yang sama serta adil. Contoh konkret dari icomensurable adalah masyarakat perumnas, tinju antara kelas bulu vs tinju kelas atas.

Agar gado – gado rasanya tambah mantap maka tambah aja cabainya, hingga dikenal gado – gado mercon yang mantap dengan rasa pedasnya. Senada dengan itu, agar lebih mantap belajar filsafat maka perlu diperbanyak membaca eleginya. Karena sebenarnya di setiap elegi memiliki jiwa spirit. Mempunyai banyak makna di dalamnya yang bisa kita petik. Diantara banyak elegi karangan Bapak Marsigit, pada salah satu elegi menyebut tentang orang seksi, siapakan orang terseksi tersebut? ternyata makna dari orang seksi tersebut adalah seseorang yang mempunyai kemampuan serta berpengaruh terhadap orang lain. Dalam hal ini adalah presiden AS yakni Obama. Keren!!! Elegi yang menarik selanjutnya adalah elegi “Surat Terbuka untuk Presiden” –lah yang merupakan elegi terformal. Adapun elegi tentang tema suatu kelas tentang hantu dan kematian yang menarik perhatian saya. Kita mengetahui bahwa setiap omongan kita adalah doa, setiap langkah kita adalah doa, bahkan setiap langkah perbuatan kita adalah doa. Dari sisi sosiologis tema itu menggambarkan generasi muda yang mulai kehilangan fondamen, kenakalan remaja dimana – mana. Sebagai calon pendidik marilah kita mencari solusi masalah ini bersama – sama. Begitu besarnya manfaat serta pengaruh elegi dalam belajar filsafat bak pengaruh Hilbert terhadap matematika Indonesia, yakni Hilbert-lah yang berhasil membangun konsep matematika formal dan melahirkan struktur matematika.

Selain rasanya yang lezat, gado-gado terdapat banyak kandungan gizi yang baik untuk tubuh kita.itulah manfaat dari lezatnya sepiring gado-gado. Tidak mau kalah dengan kelezatan gado – gado, gado – gado filsafat juga memiliki implementasi atau manfaat. Mulai dari implementasi filsafat dalam kehidupan kita sehari- hari sampai dengan implementasi filsafat dalam bidang pendidikan. Kita sudah mempelajari tentang tiga aspek atau pilar dalam filsafat. Tiga pilar tersebut adalah antologi , epistimologi dan aksiologi. Aspek antologi digunaka untuk menjawab pertanyaan apa dan bagaimana, kemudian aspek epistimologi menjawab pertanyaan mengapa, selanjutnya aksiologi digunakan untuk menjawab pertanyaan untuk apa.

Tiga pilar filsafat tersebut bisa masuk ke segala aspek kehidupan, tak terkecuali pendidikan. Manfaat filsafat dalam pendidikan yakni bisa mengetahui kualitas pendidikan , dimana kualitas itu sifatnya bertingkat – tingkat. Berikut adalah gambaran tingkatan dari kualitas. Tidak usah ambil contoh jauh – jauh. Lihatlah pada dirimu sendiri. Kualitas pertama dari diri anda sendiri adalah wajah anda, make up anda jika anda wanita, selanjutnya kualitas yang kedua pada diri anda adalah pikiran anda, perasaan anda , bahkan cita – cita anda dan lain sebagainya. Begitu berikutnya sampai kualitas ke – n pada diri anda sendiri. Berbicara tentang kualitas pendidikan, kita bisa menengoknya di blog Bapak Marsigit dalam elegi yang berjudul ”Elegi Burung di Pagi Hari dan Jangkring di Malam Hari”. Kita mengetahui pendidikan di Indonesia sekarang masih sangat kritis. Pemberontakan pendidikan sering terjadi di mana – mana , tempurung pendidikan juga masih belum banyak yang diungkap, pro dan kotra masalah Ujian Nasinal (UN) , dan tentu masih banyak masalah – masalah pendidikan yang lainnya.

Pemberontakan pendidikan ternyata juga dibahas dalam filsafat. Wow… memang kajian filsafat sangatlah luas. Pemberontakan pendidikan yang akhir –akhir ini baru terjadi adalah demo mengenai Sisdiknas tahun 2003 yang bertempatkan di Jln. Malioboro. Demo yang bertemakan “ Anti Kapitalisme dalam Bidang Pendidikan” ini menuntut adanya pendidikan murah.

Tidak hanya pemberontakan pendidikan, pendidikan karakter serta pro kotra UN juga masuk dalam kajian filsafat. Sekarang ini digembor – gemborkan memasukkan pendidikan karakter dalam sekolah serta setiap mata pelajaran. Manfaat pendidikan karakter pada pendidikan di Indonesia adalah menanamkan karakter yang berbudi pada masing – masing jiwa peserta didik.

Berpindah ke masalah Ujian Nasional (UN), banyak yang pro dan kotra dalam menanggapi masalah UN ini. Berbicara tentang Ujian Nasional teringat pada elegi Bapak Marsigit yang berjudul “ Serba – Serbi Unas”. Dalam elegi tersebut diceritakan hal – hal yang dilakukan orang tua peserta didik, peserta didik, para pendidik serta pihak sekolah agar anak didiknya bisa lulus UN, mulai dari doa bersama, mengembleng soal – soal bahkan sampai pergi ke dukun minta jampi – jampi. Sungguh tragis. Pemerintah menyadari bahwa Ujian Nasional (UN) adalah bentuk ketidakkonsistenan kebijakkan pemerintah. Walaupun begitu , hal yang mustahil untuk menghapus UN karena UN merupakan sebuah proyek oleh pemerintah.

Berdasarkan uraian di atas, kita telah mengungkap rahasia dibalik kelezatan sepiring gado – gado dan gado – gado filsafat. Karena berpikir filsafat bebas menembus dimensi ruang dan waktu, maka maaf atas segala kelancangan dalam menembus dimensi ruang dan waktu. Sekarang kita mengetahui bahwa kelezatan gado – gado filsafat tidak kalah dengan kelezatan sepiring gado – gado yang terdiri dari sayuran hijau yang diiris kecil-kecil seperti selada, kubis, bunga kol, kacang panjang, tauge, mentimun, tomat, kentang rebus yang diiris, telur rebus dan dilumuri bumbu kacang yang lezat. Ayo lebih semangat belajar filsafat.

Rabu, 27 April 2011

FILSAFAT MATEMATIKA DAN PENDIDIKAN MATEMATIKA

Matematika adalah ilmu yang selalu berkembang dari masa ke masa. Matematika muncul atau lahir dimulai dari fenomena alam yang kemudian menjadi fenomena matematika serta selanjutnya berkembang menjadi noumena. Menurut Imannuel Kant noumena adalah sesuatu yang tidak dapat dipikirkan, misalnya saja adalah ruh. Sejarah matematika sudah berkembang berawal dari Mesopotamia, Babylonia, Mesir Kuno, India, dan Cina.

Dalam perkembangannya sejarah filsafat dan hermenetika dibagi menjadi dua. Pertama filsafat dan hermenetika berkembang secara tetap. Dimana tokoh filsuf yang terkenal adalah Permenides. Selanjutnya filsafat mengalami perubahan (berubah) dengan tokoh filsuf yang termasyur adalah Heraclitos. Dari yang tetap dan berubah itulah terdapat solusi matematika atau cara atau metode yang menjadi rumus yang akan berubah atau tetap terhadap dimensi ruang dan waktu.Identitas adalah hukum dari sesuatu yang tetap atau absolute. Dimana hukum ini menggunakan logika di dalamnya. Contohnya adalah Phytagoras dengan pembuktiannya yang berdasarkan logika. Sedangkan hukum dari sesuatu yang berubah adalah kontradiksi dimana di dalam proses berfikirnya menggunakan pengalaman.

Rumus matematika muncul berdasarkan ruang dan waktu, contohnya Euclides yang menyatakan matematika bersifat aksiomatik, yang paling utama dari matematika adalah geometri dan metode matematika adalah deduksi. Sedangkan hasil yang paling terkenal dari seorang Euclides adalah postulat ke - 5 . Ada geometri euclid tentu ada geometri non euclides yang telah membuka cakrawala para matematisi dan para filsuf untuk mengevauasi kembali konsep geometri Euclides . berbeda dengan Euclides, Hilbert membangun matematika sebagai suatu sistem di atas satu pondasi yang kokoh. Sedangkan menurut Godel jika aku adalah matematika maka jika aku lengkap maka aku tidaklah konsisten . tetapi jika aku konsisten , maka aku tidaklah lengkap.

Sekarang kita menyorot pendidikan di Indonesia. Indonesia dikuasai oleh dominasi, hilbertianism, matematika aksiomatik, matematika logictik, matematika formal, matematika murni serta matematika perguruan tinggi dan semua itu tertuang di dalam Ujian Nasional (UN). UN adalah salah satu kebijakan yang dilakukan pemerintah dalam bidang pendidikan. UN memberikan gambaran absolutis yaitu lebih mudah bertemu dengan kekuasaan berhadapan dengan konstruktivism. Adanya UN menjadi pro dan kontra dalam masyarakat. Hal ini sangat wajar karena masing – masing individu memiliki sudut pandang yang berbeda terhadap UN. Ketidaksetujuan UN pun dinyatakan oleh Bapak Marsigit seorang dosen Filsafat di UNY. Hal ini terlihat dari pendapat beliau dalam Surat Terbuka untuk Presiden.

Di dalam filsafat matematika ternyata memiliki sebuah kebutuhan, yakni kebutuhan untuk difikirkan secara intensif yakni dipikirkan secara sedalam – dalamnya dan secara ekstensif yakni dipikirkan secara seluas – luasnya. Segala yang dipikirkan tersebut meliputi ontologi, epistimologi, dan absolutism.

Berikut adalah pemikiran – pemikiran dalam matematika secara filsafat. Jelas kita telah mengenal angka 2. Tapi jika kita ditanya apa hakekat bilangan 2 tanpa mengaitkan bilangan yang lain? Saya yakin tak semua orang bisa menjawab pertanyaan ini. Sama hal nya dengan saya sendiri, saya nasih belum bisa menjawab pertanyaan itu. Memang benar jika sebenar – benarnya ilmu adalah dari membaca dan terus membaca. Jawaban dari pertanyaan itu dapat dibaca di elegi bapak Marsigit dengan judul Elegi Menggapai Hakekat.Hakekat ? apa itu hakekat? Untuk memahami hakekat, ketika kita menyadari dan berada dalam pikiran kita bagi objek dan selain dirinya.Orang tidur tidak berhakekat. Apa sebabnya? Karena orang yang tidur itu tidak memikirkan dan tidak menyadari apa yang sedang terjadi.sehingga hakekat 2 hanya dapat dipahami di filsafat. Dan pada hakekatnya semua hal adalah ruang dan waktu.

Contoh lain adalah pemikiran matematika secara filsafat adalah 2 + 1 dibaca dua ditambah satu, dimana tambah adalah merupakan ekstensi dalam filsafat. Kita sudah mengetahui bahwa setiap hal itu berekstensi dan ketika berekstensi terjadi suatu potensi dan perbesaran. Tambah (+) merupakan sebuah operasi dalam matematika. Karena di dalam pemahaman filsafat tambah (+) merupakan ekstensi maka tambah (+) mengalami proses yang menonjol dan potensi yang menonjol. Lain halnya dengan 2+1=3 yang lebih menonjolkan hasil atau fakta. Selain ada + ada juga tanda sama dengan (=) yang merupakan abstraksi bagi yang dianggap mempunyai kuantitas sama, karena sesungguhnya tiadalah segala sesuatu yang sama di dunia ini karena semua terikat oleh dimensi ruang dan waktu.

Untuk contoh lain kita ambil suatu persamaan linear yakni 2X + 3Y =7. Sebagai mahasiswa matematika jelas kita mengetahui bahwa persamaan tersebut memiliki solusi yang banyak, tak tunggal dan bagaimana cara mencari solusi untuk persamaan tersebut. Tapi jika kita ingin memaknai persamaan itu dalam filsafat , kita harus bisa membaca persamaan itu terlebih dahulu sesuai dengan pandangan atau sudut pandang kita masing – masing. Filsafat sebenar – benarnya adalah diri saya sendiri berarti jelas setiap individu satu dengan yang lain memiliki pemahaman yang berbeda – beda untuk memaknainya. Mungkin ada yang menjawab seperti ini, potensi yang ada dalam proses x ada 2 dan potensi yang ada dalam proses y ada 3 akan menyebabkan fakta atau hasil yang menonjol sebanyak 7. Jawaban itu tidak salah. Bebas, karena filsafat tidak benar tidak pula salah karena sesungguhnya filsafat adalah dunia pikiranku sendiri. Persamaan 2X + 3Y = 7 dapat dibuat abstrak atau formal. Dapat pula dibuat model , skema bahwa dibuat secara fisik sehingga lebih mudah menjelaskan kepada yang lain..

Rabu, 13 April 2011

TUGAS FILSAFAT 1

Hubungan Keluarga antara Titik dan Ruwatan

Dengan latar belakang bahasa filsafat adalah menerjemahkan dan diterjemahkan serta dunia yang bergerak dalam dimensi ruang dan waktu maka diperlukan sebuah abtraksi. Dimana salah satu komponen dari abstraksi adalah reduksi. Reduksi adalah antitesis dari kelengkapan dan komponen dari reduksi sendiri adalah memilih dan dipilih. Abstraksi adalah alah yang paling ampuh digunakan dalam menerjemah. Kita membutuhkan kesadaran untuk melakukan suatu abstraksi,kesadaran terhadap ruang dan waktu. Dengan kesadaran kita diharapkan dapat memberikan sebuah makna dalam kehidupan, dari mulai hal sekecil apapun sampai ke hal yang besar. Salah satu maknanya adalah makna potensi dan makna fakta. Misal kita ambil contoh abstraksi adalah “titik (.)”. Titik bisa berada dalam pikiran kita ataupun di luar pikiran kita. Walaupun hanyalah titik (.) yang sepele tetapi tetap kita membutuhkan kesadaran terhadap ruang dan waktu dalam memaknainya. Sekarang kita berada di dalam ruang ini. Coba bayangkan jika ruangan ini dilihat dari atas pesawat atau beratus-ratus atau beribu-ribu meter dari atas. Tentu saja ruangan seluas ini akan berubah menjadi sebuah titik yang sangat kecil. Dalam geometri euklides titik adalah salah satu objek yang mendasar. Jadi dari sebuah titik bisa berpotensi menjadi garis, dari sebuah garis bisa berpotensi menjadi sebuah bidang, dari sebuah bidang bisa berpotensi membentuk lingkaran, persegi persegipanjang, balok, bangun yang tidak beraturan ataupun bisa menjadi apa saja.

Potensi titik menjadi garis, bidang ataupun menjadi apa saja itu baru separuh dari dunia yang meliputi logika, apriori, transenden, analitik, koheren, dan rasionalism. Sedangkan separuh dunia yang lain untuk bak berbentuk kubus yang berisi air, ataupun bongkahan batu besar dari gunung Merapi. Hal ini meliputi pengalaman, aposteriori, korespondensi, sintetik, persepti dan panca indra. Sungguh besar potensi yang dimiliki oleh sekecil titik.

Dalam pikiran kita ada kategori – kategori yaitu kualitas, kuantitas, relasi (hubungan), serta kategori. Ada dunia pikiran jelas ada dunia kenyataan. Hubungan antara pikiran dan kenyataan mengakibatkan akan mitos dan logos. Tengah-tengah antara dunia pikiran dan dunia kenyataan adalah data / daerah peneriman. Diatas tadi dijelaskan titik bisa berpotensi menjadi apa saja. Dari sebuah titik bisa dibuat sebuah kurva, dimana kurva bisa miring kanan, miring kiri ataupun kurva normal. Pada kurva normal ada suatu bagian yang dinamakan deviasi atau penyimpangan. Senada dengan kurva yang memiliki deviasi, kehidupan masyarakat juga memiliki deviasi atau penyimpangan. Penyimpangan dalam pengambilan keputusan atau toleransi misalnya. Penyimpangan adalah sesuatu yang kurang sesuai dengan norma yang berlaku, oleh karena itu perlu diadakan ” ruwatan”. Dalam masyarakat jawa ruwatan adalah membersihkan diri dari bala, dari kekotoran ataupun kesialan. Intinya ruwatan jawa adalah diritualkan dengan segenap jiwa dan raga ditrasfer ke ruang dan waktu yang baru, yang lebih bersih serta tujuan dari ruwatan itu sendiri adalah membersihkan jiwa – jiwa yang bermasalah atau problematik. Sedangkan dalam bahasa filsafat ruwatan adalah dicarikan solusinya atau dapat diartikan diterangkan ataupun dijelaskan.

Contoh ruwatan dalam kehidupan masyarakat jawa adalah misal sebuah keluarga mempunyai tiga anak yakni laki – laki , perempuan, dan laki – laki. Dimana dalam masyarakat jawa dikenal dengan nama “sendang kapit pancuran”. Maka dalam budaya jawa anak itu harus diruwat agar tidak dimakan oleh batara kala (menggambarkan kekotoran, kesialan, ataupun hal – hal lain yang dinilai buruk) yakni dengan pertunjukkan wayang kulit semalam suntuk. Batara kala raksasa yang suka makan manusia. Bathara kala adalah putra bathara guru atau cucu para dewa. Jenis manusia yang disukai bathara kala adalah anak / orang yang akan mengalami penderitaan atau sering disebut anak sukerta, dan “sendang kapit pancuran” adalah termasuk dalam anak sukerta. Oleh karena itu, “sendang kapit pancuran” perlu diruwat. Sedangkan contoh dalam filsafat adalah dalam perkulihaan filsafat. Membaca elegi dan memberi komen adalah salah satu metode perkulihan filsafat,jika ada mahasiswa yang tidak mau membaca dan memberi komen. Maka mahasiswa ini perlu diruwat. Dalam hal ini mahasiswa tersebut perlu untuk memberikan penjelasan (menjelaskan) ataupun dengan diberi penjelasan betapa pentingnya membaca elegi dan manfaat sesudah membacanya.

Begitulah, berawal dari sebuah titik yang kecil tak berarti yang berpontensi menjadi garis, hingga berpontesi menjadi apa saja, salah satunya adalah kurva. Dari sebuah kurva timbul suatu deviasi / penyimpangan. Dan ternyata tidak pada kurva saja terdapat deviasi, pada kehidupan manusia juga. Salah satu cara mengatasi deviasi itu adalah dengan ruwatan. Itulah hubungan keluarga antara titik dan ruwatan. Keduanya yang saling bersesinambungan melengkapi satu dengan yang lain.

Jumat, 23 Juli 2010

tp://http://www.scribd.com/doc/13068300/Ulasan-Tentang-Arca">

Sabtu, 20 Juni 2009

It Is Must That I Have a Competent In English For Mathematics Education.
English for mathematics is one object ,that I must studied it.Because it is very important for future life .For a teacher English for mathematics can to communication with students .Many people thinking English language is very difficult .It is not true .English language is easy .To studied english we must optimist, we must have motivation to study English .We must believe English is easy.
Sometimes ,we hate something while it is good for you ,and perhaps you love it while it is a danger .Studied english is same with it .Perhaps we hate studied English while english is good for future life .so,we must always study english.
Something that must I have a competent in English for mathematics education is:
1. Studied English seriously.
2. Always study hard and try do better to English for mathematics.
3. Always do exercise and homework from my teacher .
4. Positive thinking,I can speak about mathematics in English language.So, I believe tomorrow if I a teacher I can speak english in classroom and I can communicate with my students in english language.
5. Have attitude for like English language
6. Try speaking English in daily life.
7. Using my curioscity for do something or seeking information in English.So, I have many knowledge about English for mathematics education.
8. Browsing internet for information about English for mathematics education.
9. Open Mr. Marsigit’s blog and open dictionary.
10. Often listen word or sentences in English while it is useful for mathematics education.For example:in object English for mathematics by Mr. Marsigit we listen video in English about mathematics education.If we often listen in English we can have habit to using English language.
11. Have motivation for studied English.
12. Always speaking in English ,so we can pronunciation about English for mathematics better and we have habit to speaking in english.for example: mean /mien/ ,limit /’limit/.straight line /streit lain/
13. Often reading a book,a newspaper,or a magazine while use engkish language.So we know vocabulary,grammar,sentences or stastement in English.Or we can reading Mr.Marsigit’ blog.
14. Often writing in English language, so we skill to writing in English.
15. Keep a spirit.
16. Keep smile.

Etti Khosyiah
08301244029
Pend.Matematika NR 08

Minggu, 24 Mei 2009

work i have done and work i will do about english for mathematics

Work I Have Done And Work I Will Do About English For Mathematics
In English for mathematics we know usage English in mathematics.for example,in English I,I have studied about;
measurement,we knew:0=oh;0,2=oh point two;1178=one thousand one hundred and seventy eight kilometer,etc
mathematics formulas,we have studied pronunciation practice.example:a+b=c ,a plus b equals c.
describing objects,example:one dimensional shapes:a straight line,an obtuse angle,two dimensional shapes:a circle,a semi circle,a square,a trapezoid,a triangle,etc.The last ,three dimensional shapes:a cube,a ="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_0">regtanguler prism,a sphere,a cylinder,a upright cone,etc.
words related to dimension:adjective long,nouns length
To studied English for mathematics my teacher,Mr. class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1">Marsigit used “Blog” to communicate with his students.In Mr.LLING_ERROR_2">Marsigit’s blog,he "blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_3">writed several theory about mathematics in English language.So,work I have done about English for mathematics is;first,I made a”Blog”.In my blog I writed exercise from Mr."blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_5">Marsigit to me.In my blog ,I writed:
Saturday,21 Feb 2009
About:”My Preparation in Participacing Mr.Marsigit’s Lesson of English II”
Sunday,22 Mar2009
About:”Nature of Mathematics and Nature of Mathematics Education.”
Sunday,22 Mar 2009
About:”My Difficult Word in Mathematics”r> Monday.30 Mar 2009
I NG_ERROR_9">writed it from in video from Mr.Marsigit.Title this video is:
Do You Believe
What Do You About Mathematics
English Solving Problem
English Properties of Logarithmr> English blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_10">Pre Calculus Rational
English Trigonometry
Saturday,4 Apr2009
About:
Characteristic of Logarithm
History of phi(π) number
History of formula “ABC”((-b±√(b^2-4ac))/2a )in square equals
Proof root of 2 (√2 ) is irrational number.
y=x+1 intersection with circle,where a circle have radius root of 30 (√30
Besides, I ass="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_11">writedan> in my blog,second,I do test from Mr.Marsigit.We do test from Mr.Marsigit twice.For do the test,I have written a book about English for mathematics,I have opened Mr.sp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_13">Marsigit’s blog and I have written dictionary too.Third,I was finished my homework from Mr.Marsigit with title Mathematics Inovation.
Then,from Mr. Marsigit’s blog we know areas of two dimensional shapes,it is areas of trapezoid,areas of rhombus,nature of mathematics and mathematics education,part of mathematics and we can to translating from english into mathematics or translating from mathematics into English.
Then,work will I do about English for mathematics is I will always trial to study English hard.I will study english not only from my teacher,Mr.Marsigit but also from internet,so I have much vocabulary in English and I have knowledge about English for mathematics,I want smart in English.So I can go to Australia like Mr.Marsigit.It is my dream.It is not my daydream because I believe I can do it.